Rabu, 16 Mei 2018

Bani Ayyubiyah

SEJARAH BERDIRINYA DINASTI AL-AYYUBIYAH DAN PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN/PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI AL-AYYUBIYAH

Salahudin Al-Ayyubi adalah pendiri Dinasti Al-ayyubiyah di Mesir yang pada masa hidupnya terkenal sebagai ahli ilmu agama Islam yang menganut paham Sunni. Beliau lahir di Tikriet, Irak pada tahun 532H/1137M. Sholahuddin terlahir dari keluarga Kurdi di kota Tikrit (140km barat laut kota Baghdad) dekat sungai Tigris pada tahun 1137M. Masa kecilnya selama sepuluh tahun dihabiskan belajar di Damaskus di lingkungan anggota dinasti Zangid yang memerintah Syria, yaitu Nuruddin Zanki.
Selain belajar Islam, Salahuddin pun mendapat pelajaran kemiliteran dari pamannya Asaddin Shirkuh, seorang panglima perang Turki Seljuk. Bersama dengan pamannya Sholahuddin menguasai Mesir, dan mendeposisikan sultan terakhir dari kekhalifahan Fatimiah (turunan dari Fatimah Az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW).
Mengapa disebut dengan dinasti Al-ayyubiyah?
Bani Ayyubiyah merupakan keturunan Ayyub, seorang keturunan suku Kurdi dari Azerbaijan. Nama Ayyubiyah dikaitkan dengan nama ayah Salahudin, yaitu Najmudin bin Ayyub. Sebenarnya dinasti ini berbentuk persatuan beberapa dinasti yang tunduk kepada satu dinasti yang dipimpin oleh kepala keluarga. Tiap dinasti diperintah oleh seorang anggota keluarga Ayyubiyah. Dinasti ini mempunyai kekuasaan di Mesir, Suriah, Dyarbakr, dan Yaman. Pembentukan dinasti ini juga mempunyai kaitan erat dengan Imadudin Zanki yang menggantikan panglima Tutusy. Dalam catatan sejarah, Imadudin terkenal sebagai salah seorang panglima yang mengerahkan kekuatan islam untuk menhgadapi pasukan tentara salib. Setelah ia meninggal digantikan oleh putranya, Nurudin Zanki.
Pada masa mudanya, Salahuddin Al-Ayyubi kurang terkenal di kalangan masyarakat. Ia senang berdiskusi tentang ilmu kalam, ilmu fikih, alquran dan hadits. Shalahuddian Al-Ayyubi kemudian diperkenalkan oleh ayahnya kepada Nuruddin Zanki. Pada masa Nuruddin Zanki, gubernur syuriah dari Bani Abbasiyah, Salahudin al-Ayyubi diangkat sebagai kepala garnisun di Balbek.
Salahudin Al-Ayyubi mulai dikenal oleh kalangan masyarakat ketika beliau menjadi tentara pejuang mendampingi pamannya, Assadudin Syirkuh, yang mendapatkan tugas dari Nurudin Zanki untuk membantu mengembalikan kekuasaan Dinasti Fathimiyah di Mesir pada tahun 1164 M. Perdana menteri Syawar yang dikudeta oleh Dirgam menjanjikan imbalan sepertiga pajak tanah mesir kepada Shalahudin Al-Ayyubi jika ia berhasil mengalahkan Dirgam. Ternyata Salahudin berhasil mengalahkan Dirgam dan akhirnya Perdana Menteri Syawar bisa menduduki kembali jabatannya pada tahun 1164 M.
Tiga tahun kemudian Salahudin Al-Ayyubi kembali menyertai pamannya ke Mesir. Hal ini terjadi karena syawar bersekutu dengan Amauri (pimpinan pasukan tentara salib) yang dulu pernah membantu Dirgam. Keadaan ini sangat membahayakan posisi Nurudin Zanki dan umat Islam. Peperangan pun terjadi antara Salahudin melawan Syawar dan Amauri. Pada mulanya pasukan Salahudin berhasil menduduki kota Iskandariyah, tetapi ia dikepung dari darat dan laut oleh tentara salib yang dipimpin oleh Amauri.
Ada beberapa kemajuan dalam perkembangan kebudayaan/ peradaban pada masa dinasti Al-Ayyubiyah yaitu:
1. Kemajuan di bidang Pendidikan
Pada masa Salahudin Al-ayyubi, Syria menjadi kota pendidikan yang besar. Ibnu Jubair yang mengunjungi Damaskus pada tahuan 1184 mendapati sekitar 20 madrasah yang bebas biaya. Kemudian Salahudin memperkenalkan sekolah model madrasah ini ke Mesir, Yerusalem dan Hijaz. Salah satu akademi terkemuka pada masa itu adalah akademi Ash-Shalahiyah di Kairo. Pada masa Al-Adil juga dibangun sekolah dengan nama Al-Adliyah di Damaskus.
2. Kemajuan di bidang kesehatan
Di samping mendirikan madrasah, Salahudin juga mendirikan dua  rumah sakit di Kairo. Sebelumnya, Ibnu Thulun dan Khalifah Kafur dari masa pemerintahan Iksidiyah telah mendirikan lembaga yang sama yang berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan masyarakat.
3. Kemajuan di bidang Arsitektur
Salah satu peninggalan yang menunjukan kemajuan arsitektur pada masa dinasti Al-Ayyubiyah adalah benteng Kairo yang disebut Qal’ah Al-Jabal, dibangun pada tahun 1183 M oleh Salahudin Al-Ayyubi. Bahan bangunan yang digunakan adalah batu-batuan alam yang berbentuk balok, serupa dengan batu yang dipakai bangunan piramida. Konstruksi benteng ini menyerupai benteng-benteng Normandia yang terdapat di Palestina.
4. Kemajuan di bidang Pertanian dan perdagangan
Pada masa Al-Kamil sumbangan yang diberikan untuk masyarakat pada masa itu adalah irigasi dan majunya pertanian. Di samping itu, ada penandatanganan perjanjian dagang dengan negara-negara Eropa.

Pertumbuhan dan perkembangan Al-Azhar
Nama Al-Azhar dikenal pada masa Dinasti Fathimiyah menguasai Mesir, yang didirikan di Kairo Mesir oleh seorang panglima yaitu Jauhar Al-Katib Al-Siqili atas perintah dari khalifah al-Muiz Lidinillah pada tahun 359H/970M. Pada mulanya Al-Azhar ini bernama masjid Al-Qahirah atau masjid Jami’ Al-Qahirah yang diambil dari nama ibukota dimana masjid itu didirikan. Dalam perkembangannya setelah Dinasti Fathimiyah runtuh         ( 1171M) dan kemudian dikuasai oleh Salahudin Al-Ayyubi yang menganut paham Suni. Kemudian Salahudin membuat kebijakan baru mengenai al-Azhar yaitu Al-Azhar tidak boleh lagi digunakan sebagai shalat jumat dan madrasah serta dilarang untuk tempat belajar dan mengkaji ilmu-ilmu, baik ilmu agama maupun umum. Alasannya karena pada masa Dinasti Fathimiyah digunakan  sebagai alat propaganda ajaran Syiah sedangkan Salahudin sendiri berorientasi kepada Suni. Meskipun begitu, penutupan Al-Azhar sebagai masjid dan perguruan tinggi bukan berarti dinasti ini tidak memperhatikan bidang-bidang agama dan pendidikan, bahkan pendidikan mendapatkan perhatian yang baik, dibuktikan dengan pembangunan madrasah-madrasah, pengkajian tinggi (kulliyat). Kurang lebih ada 25 kulliyat antara lain Manazil al-‘iz, al-Kulliyat al-Adilliyah, al-Kulliyat al-Arsufiyah, al-Kulliyat al-Fadilliyah, al-Kulliyat al-Azkasyiayah, al-Kulliyat al-‘Asuriyah.
Kompleks Al-Azhar, pada mulanya masjid yang didirikan tahun 970 pada awal Dinasti  Fatimiah oleh  Jauhar as-Siqilli
Pada masa pemerintahan Sultan Malik Al-Aziz Imadudin Usman, putra Salahudin Al-Ayyubi, Abdul Al-Latif Al-Baghdadi datang mengajarkan mantiq dan bayan di Al-Azhar.
Perkembangan Al-Azhar ditandai dengan berbagai kemajuan dari masing-masing periode. Perkembangan setelah dinasti Al-Ayyubiyah dilanjutkan oleh dinasti Mameluk. Pada masa ini memerintahkan kepada ulama supaya membukukan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Buku-buku tersebut di tulis dalam bentuk ensiklopedi dengan maksud diperuntukkan mahasiswa yang ingin memperdalam pengetahuan.
Sebelum tahun 1872, ijazah yang diberikan pada peserta didik tidak melalui ujian, tetapi berdasarkan keputusan pribadi masing-masing guru.
Perkembangan selanjutnya pada masa kepemimpinan Syekh Muhamad Abbasi Al-Mahdi Al-Hanafi, rektor Al-Azhar ke-21 mulai ada pembaharuan yaitu ada ujian untuk mendapatkan ijazah dengan diuji dalam bidang usul, fiqih, tauhid, hadits, tafsir, nahwu, saraf, ma’ani, bayan, badi’ dan mantic. Pada bulan maret 1885 keluar peraturan tentang tenaga pengajar di Al-Azhar yaitu syarat sebagai tenaga pengajar telah menyelesaikan buku-buku induk tersebut diatas.
Pada abad 20 ini Al-Azhar mulai memperhatikan hasil-hasil yang telah dicapai dalam bidang keislaman dan kearaban. Usaha-usaha untuk mengikuti perkembangan zaman adalah dengan mengirimkan alumni yang dipandang mampu untuk belajar di Eropa dan Amerika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Profil Pemilik Blog

Saya lahir pada tanggal 25 Juli 1971 di Kp. Sedaleuwih Desa Puteran Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya. Penulis anak ke Tiga dari l...