BERDIRINYA DINASTI ABBASYIAH
PENDAHULUAN
Sejarah merupakan rangkaian peristiwa yang didalamnya terdapat suatu kejadian tentang suatu obyek. Baik itu tentang berdirinya atau runtuhnya suatu kerajaan, kejayaan kerajaan pada suatu masa ataupun cerita tentang keberhasilan seorang atau sekelompok orang. Dengan mempelajari sejarah kita jadi tahu peristiwa masa lalu yang kemudian kita dapat mengambil hikmah dari peristiwa tersebut untuk diterapkan dalam kehidupan kita atau sebagai motivator bagi diri kita untuk mencapai tujuan hidup. Karena itulah penyampaian materi sejarah hendaknya dapat memberikan nilai kepada peserta didik sehingga peserta didik dapat mengenal, menghayati dan mentransfer nilai yang ada dalam sejarah tersebut.
Dinasti Abbasyiah merupakan salah satu dari sekian banyak dinasti Islam yang lahir saat itu. Pada masa ini Islam mencapai kejayaan bahkan Islam menjadi kiblat ilmu pengetahuan dan peradaban dunia. Untuk mencapai masa keemasan itu dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang amat panjang, bagaimana perjuangan untuk mendirikan suatu dinasti, membangun dan mengisinya, bagaimana mengatasi pergolakan yang terjadi dan bagaimana pula usaha para khallifah dalam membawa Dinasti Abbasyiah mencapai kejayaan.
Dalam materi ini nanti akan diuraikan tentang proses berdirinya Dinasti Abbasyiah dan yang melatarbelakanginya, dan kemajuan yang dicapai pemerintahan Dinasti Abbasyiah, baik dari segi sosial budaya, politik militer dan ekonomi. Dari materi ini nantinya peserta didik diharapkan dapat :
1. Menceritakan Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasyiah.
1.1 Menjelaskan latar belakang berdirinya Dinasti Abbasyiah.
1.2 Mendeskripsikan proses terbentuknya Dinasti Abbasyiah.
1.3 Menyebutkan tokoh terkenal Dinasi Abbasyiah.
2. Mendiskripsikan Perkembangan Kebudayaan/Peradaban Islam pada masa Dinasti Abbasyiah.
2.1 Menjelaskan perkembangan kebudayaan/peradaban Islam pada masa Dinasti Abbasyiah, dibidang sosial, budaya, ekonomi, politik dan militer.
2.2 Menunjukkan sebab perkembangan kebudayaan/peradaban Islam pada masa Dinasti Abbasyiah.
2.3 Menjelaskan dampak kemajuan sosial budaya bagi perkembangan pengetahuan umat Islam.
Itulah batasan dari materi ini, diharapkan agar anak lebih terfokus dalam penguasaan materi pembelajaran dikarenakan luasnya cakupan sejarah peradaban Islam.
I. BERDIRINYA DINASTI ABBASYIAH
A. Latar Belakang Berdirinya Dinasti Abbasyiah
Dalam membahas berdirinya Dinasti Abbasyiah kita tidak bisa lepas dari proses runtuhnya Dinasti Umayah. Karena sesungguhnya pemerintahan Dinasti Abbasyiah merupakan kelanjutan dari pemerintahan Dinasti Umayyah. Benih-benih gerakan Dinasti Abbasyiah dimulai saat roda pemerintahan Dinasti Umayyah dipegang oleh khalifah ke delapan yaitu Umar bin Abdul Azis. Saat itu khalifah Umar bin Abdul Azis dapat membawa pemerintahan Umayyah damai, tentram, tidak ada pertumpahan darah dan khalifah bersikap sangat lunak terhadap musuh-musuhnya sehingga Khalifah Umar bin Abdul Azis dapat menyatukan seluruh musuh-musuh Bani Umayyah, seperti golongan Syiah dan golongan Khawarij. Puncak perlawanan Bani Abbasyiah terjadi pada masa pemerintahan Marwan bin Muhammad. Pada masa ini terjadi kekacauan dalam kehidupan bernegara yang dilakukan oleh khalifah dan para pejabat negara, hal ini merupakan peluang bagi berkembangnya Dinasti Abbasyiah, antara lain:
1. Dinasti Umayyah memperlakukan bangsa Arab sangat istimewa, para penguasa baik pusat maupun daerah semua orang Arab, sehingga Dinasti Umayyah merupakan Dinasti Arab murni. Dinasti Umayyah menganggap rendah kaum muslim non Arab (Mawali) akibatnya mereka kecewa terhadap pemerintahan Umayyah.
2. Dinasti Umayyah memihak salah satu golongan dari suku Arab yang saling bertikai, yaitu antara suku Arab Utara (Mudariyah) dan suku Arab Selatan (Himyariyah), sehingga membuat kecewa suku Arab Selatan (Himyariyah).
3. Dinasti Umayyah selalu menindas, menghujat dan mencaci terhadap para pengikut Ali bin Abi Thalib dan Bani Hasyim. Mereka juga masih dibayangi peristiwa Karbala. Akibatnya kaum Syiah memberontak, mereka menuntut hak atas keturunan Ali untuk menduduki kursi kekhalifahan.
4. Banyak para pembesar Dinasti Umayyah melakukan pelanggaran terhadap ajaran agama Islam, hal ini membuat para tokoh agama kecewa dan menganggap pemerintahan Umayyah sebagai pemerintahan yang sekuler.
Kesalahan langkah Dinasti Umayyah ini berakibat timbulnya banyak pemberontakan. Pada awal pemerintahan Dinasti Umayyah pemberontakan tersebut dapat dipatahkan karena pasukan dinasti Umayyah amat tangguh. Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Azis adalah masa yang penuh perdamaian tidak ada pertumpahan darah. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Bani Hasyim untuk menggalang kekuatan secara rahasia dalam merebut kekuasaan Dinasti Umayyah. Untuk mendapatkan simpati masyarakat, Bani Hasyim dalam propagandanya menyatakan bahwa khalifah adalah hak keluarga Nabi dan mereka akan mengamalkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul serta menegakkan Syariat Allah. Karena propaganda inilah kaum Syiah, kaum Khawarij dan Kaum Mawali di kota Khurasan dapat bersatu untuk menggulingkan Dinasti Umayyah.
B. Proses Terbentuknya Dinasti Abbasyiah
Kesalahan langkah yang diambil oleh para khalifah Bani Umayyah banyak menimbulkan pemberontakan. Golongan yang pertama kali menunjukkan ambisi politik muncul dari keturunan Bani Abbas yang dipelopori oleh Ali bin Abdullah bin Abbas yang wafat tahun 118 H / 736 M. Karena ambisi politiknya tercium oleh khalifah Walid bin Abdul Malik, maka ia diusir dari Damaskus sebagai pusat pemerintahan Dinasti Umayyah dan tinggal di Humaimah, Yordania. Sepeninggal Ali bin Abdullah perjuangan Bani Hasyim dilanjutkan oleh Muhammad bin Ali.
Gerakan Bani Hasyim dalam menggulingkan Dinasti Umayah melalui dua cara yaitu secara rahasia dan terang-terangan (pertempuran).
Secara rahasia gerakan Bani Hasyim dimulai pada masa Umar bin Abdul Azis, dibawah pimpinan Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas yang didukung oleh kelompok-kelompok yang tidak puas terhadap pemerintahan Dinasti Umayyah seperti Khawarij, Syiah dan Mawali. Untuk memperlancar gerakannya Muhammad bin Ali menetapkan 3 kota sebagai pusat gerakannya, Al Humaymah sebagai pusat perencanaan dan pengorganisasian, Kufah sebagai kota penghubung dan Khurasan sebagai pusat gerakan praktis.
Langkah yang diambil Bani Hasyim selanjutnya dengan mengirim 12 propagandis untuk mendapatkan pendukung yang banyak. Kota Khurasan ditetapkan sebagai titik awal penyebaran propaganda Bani Abbasyiah.
Pada tahun 125 H / 742 M Muhammad bin Ali meninggal, kegiatan Bani Hasyim dilanjutkan oleh Ibrahim bin Muhammad atau dikenal dengan Ibrahim Al Imam.
Pada saat pemerintahan Dinasti Umayyah dikendalikan oleh Hisyam bin Marwan, gerakan Bani Hasyim yang dipimpin oleh Ibrahim Al Imam mulai muncul secara terang-terangan bahkan sudah berani mengadakan perlawanan terhadap pemerintahan Dinasti Umayyah. Hal ini dikarenakan dalam gerakan Bani Hasyim muncul seorang pemuda berdarah Persia yang amat cerdas, pemberani dan merupakan propagandis ulung bernama Abu Muslim Al Khurasani.
Tahukah kalian strategi apa yang digunakan Bani Hasyim untuk merebut kekuasaan Bani Umayyah? Strategi yang digunakan Ibrahim Al Imam sebagai komando gerakan Bani Hasyim untuk mendapat pendukung yang banyak adalah:
1. Membentuk gerakan bawah tanah, dengan tokoh-tokohnya adalah:
- Muhammad bin Ali - Ibrahim al Imam
- Abdullah bin Muhammad - Abu Muslim Al Khurasani
2. Menerapkan politik bersahabat, keturunan Bani Abbas tidak menampakkan sikap permusuhan dengan Bani Umayyah.
3. Dalam gerakannya tidak menggunakan nama Bani Abbas, tetapi menggunakan nama Bani Hasyim, dengan maksud agar pendukungg Ali bin Abi Thalib tetap mau mendukungnya karena sama-sama keturunan Bani Hasyim.
4. Menetapkan wilayah Khurasan sebagai pusat gerakan praktis bawah tanah yang dipimpin oleh Abu Muslim Al Khurasani.
Pada saat Ibrahim Al Imam mengadakan perlawanan terhadap Marwan bin Muhammad, ia tertangkap dan dipenjara di kota Harran sampai meninggal dunia pada bulan Muharam 132 H / Bulan Agustus 749 M. Komando Bani Hasyim selanjutnya dipegang oleh keponakannya bernama Abdullah bin Muhammad yang dikenal dengan Abu Abbas as Saffah.
Abdullah bin Muhammad dan Abu Muslim Al Khurasani adalah tokoh utama dalam menggulingkan pemerintahan Marwan bin Muhammad. Keduanya sangat cerdik dalam memanfaatkan kelemahan-kelemahan pemerintahan Marwan bin Muhammad yang sudah tidak stabil karena banyaknya pemberontakan sehingga memperlemah pertahanan Dinasti Umayyah.
Puncak pertempuran terjadi pada bulan Pebruari 132 H / 750 M di tepi sungai Dzab, Khurasan antara kelompok Syiah dengan pasukan Marwan bin Muhammad. Saat pertempuran terjadi Abu Muslim al Khurasani mengambil langkah politik yang sangat tepat, dengan melakukan kampanye terbuka untuk kepentingan Bani Hasyim. Ia mengirimkan utusan ke berbagai kota di wilayah Khurasan untuk mengambil baiat dari pemuka masyarakat Khurasan terhadap Bani Abbasyiah. Penduduk Khurasan dengan antusias menyambut para utusan Abu Muslim al Khurasani, sehingga mereka patuh dalam satu komando Bani Hasyim.
Selanjutnya kalian bisa menebak apa yang terjadi pada pemerintahan Dinasti Umayah? Benar. Khalifah Marwan bin Muhammad tidak dapat mengatasi kekacauan yang berakibat runtuhnya Dinasti Umayyah. Abdullah bin Muhammad memberikan perintah kepada pamannya Abdullah bin Ali untuk mengejar Marwan bin Muhammad, dengan menjanjikan kekhalif
ahan akan diberikan kepadanya setelah ia wafat kelak bila dapat membunuh Marwan bin Muhammad.
Terjadilah pertempuran antara pasukan Marwan bin Muhammad dengan pasukan abdullah bin Ali, ditepi Sungai Zab Besar pada bulan Januari 750 M yang dapat menumbangkan khalifah terakhir Dinasti Umayyah. Akhirnya pada bulan Dzulhijah 132 H/5 Agustus 750M di dusun Bushair (Abusir), Fustat Mesir, Marwan bin Muhammad dapat dibunuh oleh Salih bin Ali yang mendapat tugas menghabisi Marwan bin Muhammad dari Abu Abbas as Saffah. Dalam peristiwa ini seorang pewaris tahta Dinasti Umayah bernama Abdurrahman yang berusia 20 tahun berhasil meloloskan diri ke daratan Andalusia, yang kemudian dapat menyusun kembali kekuatan Bani Umayah di Cordova dan berhasil mengembalikan kejayaan Dinasti Umayah dengan nama Dinasti Umayyah II (Dinasti Andalusia).
Dengan terbunuhnya Marwan bin Muhammad maka pemerintahan Islam berpindah tangan dari Bani Umayyah ke Bani Hasyim. Pemerintahan baru ini dikenal dengan nama Bani Abbasyiah yang dinisbahkan kepada Abbas bin Abdul Muttalib, paman dari Rasulullah SAW. sebagai khalifah pertamanya adalah Abdullah bin Muhammad atau Abu Abbas as Saffah. Sebenarnya pengangkatan As Saffah sebagai khalifah pertama sudah dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 30 Oktober 749 M di Masjid Kufah.
Selama Dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya. Berdasarkan perubahan pola dan politik Dinasti Abbasyiah terbagi dalam lima periode, sebagai berikut:
1. Periode pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M). Periode ini disebut dengan pengaruh Persia pertama.
2. Periode kedua (232 H/847 M – 374 H/945 M). Disebut pengaruh Turki pertama .
3. Periode ketiga (374 H/945 M – 447 H/1055 M). Disebut pengaruh Persia kedua karena kekuasaan Abbasyiah dibawah pengaruh Dinasti Buwaihiyah.
4. Peride keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M). Disebut masa pengaruh Turki kedua karena pada masa ini kekuasaan Dinassti Abbasyiah dibawah kendali Bani Saljuk.
5. Periode kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M). Pada masa ini pemerintahan Abbasyiah sudah terbebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di kota Baghdad saja.
Pada periode pertama, pemerintahan Abbasyiah mencapai masa keemasan (The Golden Age of Islam). Dinasti abbasyiah pada periode ini lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada perluasan wilayah. Pada masa ini khalifah dapat mengendalikan pemerintahannya dengan penuh tanggung jawab sehingga Baghdad bisa menjadi pusat pemerintahan, ilmu pengetahuan agama dan umum, dan menjadi pusat perdagangan. Kesejahteraan rakyat mencapai tingkat tertinggi. Pada periode ini berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Khalifah yang berkuasa pada masa ini benar-benar tokoh yang kuat. Mereka adalah:
1). Abu Abbas as Saffah tahun 132 – 136 H/ 750 – 754 M
2). Abu Ja’far Al Mansur tahun 136 – 158 H/ 754 – 775 M
3). Al Mahdi tahun 158 – 169 H/ 775 – 785 M
4). Al Hadi tahun 169 – 170 H/ 785 – 786
5). Harun Ar Rasyid tahun 170 – 193 H/ 786 – 809 M
6). Al Amin tahun 193 – 198 H/ 809 – 813 M
7). Al Ma’mun tahun 198 – 218 H/ 813 – 833 M
8). Al Mu’tashim tahun 218 – 227 H/ 833 – 842 M
9). Al Watsiq tahun 227 – 232 H/ 842 – 847 M
Ciri utama pada periode ini adalah berkembangnya ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Para khalifah benar-benar mencintai ilmu pengetahuan, terutama pada masa khalifah Harun ar Rasyid dan Al Makmun. Kedua khalifah ini sangat menghargai para ilmuwan, seperti khalifah Al Makmun akan memberikan hadiah kepada ilmuwan berupa emas seberat buku yang diterjemahkan, adanya majelis Munadzarah dan Baitul Hikmah sebagai lembaga ilmu pengetahuan dan sarana diskusi, pusat penerjemahan buku-buku asing kedalam bahasa Arab dan pengembangan ilmu pengetahuan, yang sudah dilengkapi dengan observatorium. Pada periode ini dunia Barat dalam keadaan gelap ilmu pengetahuan yang dikenal dengan The Dark Midle Age. Ilmu pengetahuan yang dicapai umat Islam menjadi aspirasi bagi bangkitnya ilmu pengetahuan dunia Barat. Kondisi ini terjadi karena adanya jasa seorang tokoh Persia bernama Khalid Al Barmaki. Keluarga Barmak sangat berpengaruh dalam pemerintahan Abbasyiah, keluarga Barmak merupakan keluarga non Arab pertama kali yang dapat menduduki posisi penting dalam pemerintahan Abbasyiah, bahkan pada masa Al Mahdi mempercayakan pendidikan Harun ar Rasyid kepada Yahya bin Khalid al Barmaki, sehingga ia sangat berpengaruh terhadap diri Harun ar Rasyid dan memanggilnya dengan sebutan “ayah”.
Pada periode kedua pengaruh aliran salaf sangat kuat sehingga aliran Mu’tazilah mengalami kemunduran. Aliran Mu’tazilah adalah aliran resmi Dinasti Abbasyiah pada masa pemerintahan Al Makmun. Untuk menerapkan aliran Mu’tazilah ini khalifah Al Makmun mengadakan mihnah yaitu pengujian terhadap aparat pemerintahan tentang keyakinan mereka akan paham Mu’tazilah, terutama bagi jabatan qadhi. Namun dalam pelaksanaan mihnah tidak hanya bagi aparat pemerintahan saja tetapi tokoh masyarakat pun terkena mihnah, sehingga banyak ulama dan tokoh pemerintahan yang disiksa karena tidak sepaham dengan Mu’tazilah seperti Imam Hambali, bahkan ada ulama yang dibunuh diantaranya adalah Al Khuzza’i dan Al Buwaythi. Mihnah itu timbul sehubungan dengan paham Khalqu al Qur’an (Al Qur’an merupakan makhluk).
Pada masa ini ada tiga belas khalifah yang berkuasa yaitu:
1. Al Mutawakkil tahun 232 – 247 H/ 847 – 861 M
2. Al Muntasir tahun 247 – 248 H/ 861 – 862 M
3. Al Musta’in tahun 248 – 252 H/ 862 – 866 M
4. Al Mu’taz tahun 252 – 255 H/ 866 – 869 M
5. Al Muhtadi tahun 255 – 256 H/ 869 – 870 M
6. Al Mu’tamid tahun 256 – 279 H/ 870 – 892 M
7. Al Mu’tadhid tahun 279 – 289 H/ 892 – 902 M
8. Al Mu’tafi tahun 289 – 295 H/ 902 – 908 M
9. Al Muqtadi tahun 295 – 320 H/ 908 – 932 M
10. Al Qahir tahun 320 – 322 H/ 932 – 934 M
11. Ar Radhi tahun 322 – 329 H/ 934 – 941 M
12. Al Muttaqi tahun 329 – 333 H/ 941 – 945 M
13. Al Mustakfi tahun 333 – 334 H/ 945 – 946 M
Pada periode kedua ini khalifah bergantung pada pasukan asing untuk dapat berkuasa atas rakyatnya sendiri, sehingga
pemerintah pusat menjadi lemah.
Pada periode ketiga pengaruh Bani Buwaihi sangat menonjol, sehingga kedudukan khalifah hanya sebagai simbol saja. Banyak keluarga Bani Buwaihi yang menjadi orang-orang kepercayaan khalifah bahkan otoritas kekuasaan sebagaimana khalifah. Misalnya khalifah Al Mustakfi mengangkat Ahmad bin Buwaihi sebagai Amirul Umara dengan gelar Muiz ad Daulah (penegak negara), Ali bin Buwaihiyah menjadi gubernur di Fars dengan gelar Imad ad Daulah (tiang negara) dan Hasan bin Buwaihiyah diberi kekuasaan didaerah Isfahan dengan gelar Rukun ad Daulah (penopang negara). Bahkan Bani Buwaihiyah mendirikan Darul Mamlakah sebagai pusat pemerintahan Bani Buwaih di Baghdad. Bani Buwaihiyah merupakan pengikut aliran Syiah Isyna Asy’Ariyah yang mempercayai adanya dua belas imam, sedang para khalifah Bani Abbasyiah menganut aliran Sunni. Para khalifah periode ketiga adalah:
1. Al Mutik tahun 334 – 363 H/ 945 – 973 M
2. At Tai tahun 363 – 381 H/ 973 – 991 M
3. Al Qadir tahun 381 – 422 H/ 991 – 1031 M
4. Al Qaim tahun 422 – 467 H/ 1031 – 1075 M
Periode ke empat peranan Bani Saljuk sangat dominan dalam pemerintahan Bani Abbaasyiah. Bani Saljuk yang berperan dalam pemerintahan Bani Abbasyiah adalah Bani Saljuk Syiria, Bani Saljuk Irak dan Kurdistan Pada periode ini terjadi Perang Salib yakni perang antara umat Islam melawan umat Nasrani di Barat. Pada periode ini muncul berbagai dinasti didunia Islam yang menggambarkan mulai hilangnya persatuandunia Islam dibidang politik. Khalifah yang memimpin pada periode ini adalah:
1. Al Muqtadi tahun 467 – 487 H/ 1075 – 1094 M
2. Al Mustadir tahun 487 – 512 H/ 1094 – 1118 M
3. Al Mustarsyid tahun 512 – 529 H/ 1118 – 1135 M
4. Ar Rasyid tahun 529 – 530 H/ 1135 – 1136 M
5. Al Muqtafi tahun 530 – 555 H/ 1136 – 1160 M
Pada periode ke lima ini Dinasti Abbasyiah berkuasa penuh atas pemerintahannya, namun hanya efektif di wilayah Baghdad saja. Hal ini disebabkan kerajaan bawahan Dinasti Abbasyiah banyak yang melepaskan diri dari pemerintahan Abbasyiah. Khalifah yang berkuasa pada masa ini adalah:
1. Al Mustanjid tahun 555 – 566 H/ 1160 – 1171 M
2. Al Mustadi tahun 566 – 575 H/ 1171 – 1180 M
3. An Nasir tahun 575 – 622 H/ 1180 – 1225 M
4. Az Zahir tahun 622 – 623 H/ 1225 – 1226 M
5. Al Mustansir tahun 623 – 640 H/ 1226 – 1242 M
6. Al Mustksim tahun 640 – 656 H/ 1242 – 1258 M
Pada akhir pemerintahan Dinasti Abbasyiah para khalifah yang berkuasa sangat lemah, sehingga saat tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan membumi hanguskan kota Baghdad mereka tidak kuasa menghadapinya. Seluruh khazanah ilmu pengetahuan dan peradaban Islam habis, tidak ada satupun yang tersisa. Walau nantinya keturunan Jenghis Khan ini membangun lagi kota Baghdad dengan megah, namun tidak dapat mengembalikan kejayaan Islam yang telah dicapai oleh Dinasti Abbasyiah.
C. Baghdad Sebagai Kota Metropolitan
Setelah Dinasti Umayyah runtuh pusat pemerintahan Islam dipindah ke Kufah. Selanjutnya Kufah dijadikan sebagai ibukota Dinasti Abbasyiah. Dalam perkembangannya As Saffah memindahkan ibu kota Dinasti Abbasyiah dari Kufah ke Hira. Hal ini disebabkan penduduk Kufah mayoritas kaum Syi’ah sehingga khalifah khawatir terjadi pemberontakan karena kekecewaan mereka terhadap Bani Abbasyiah. As Saffah selanjutnya memindahkan ibukota Abbasyiah ke Anbar dan membangun istana Hasyimiyah sebagai tempat tinggalnya sampai beliau meninggal dunia.
Pengganti As Saffah adalah saudaranya bernama Abu Ja’far al Mansur. Pada masa pemerintahan Al Mansur terjadi pemberontakan Rowandiyah yaitu gerakan yang menyejajarkan khalifah dengan Tuhan dan munculnya pemberontakan Sunbad yaitu kelompok pengagum dan pendukung Abu Muslim al Khurasani di Khurasan. Al Mansur merasa Anbar tidak lagi cocok sebagai pusat pemerintahan Abbasyiah. Beliau kemudian memilih daerah disebelah barat Sungai Tigris yang berudara segar dan letaknya sangat strategis, baik dari segi politik, ekonomi atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Menurut cerita rakyat, Baghdad adalah tempat peristirahatan Kisra Anusyirwan raja Persia saat musim panas. Baghdad berarti Taman Keadilan.
Dalam membangun kota Baghdad, Al Mansur mengerahkan 100.000 orang dengan dua arsitek terkenal bernama Hajjaj bin Arth dan Amran bin Wahdah (762M). Ditengah kota Baghdad dibangun istana Qasruz Zihab (istana keemasan) dan sebuah masjid. Dalam waktu singkat Baghdad menjadi kota yang ramai dan amat sibuk, maka Al Mansur membangun istana baru di luar kota yang diberi nama Qasrul Khuldi (istana abadi). Kota Baghdad berbentuk bundar maka disebut juga Kota Bundar, yang terbagi dalam empat wilayah dan disetiap wilayahnya dipimpin oleh seorang Naib Amir yang diberi hak otonomi penuh. Kota Baghdad mempunyai empat pintu gerbang yaitu Bab al Kufah, Bab al Syam, Bab al Basrah dan Bab Al Khurasan. Antara pintu gerbang dibangun 28 menara sebagai tempat untuk mengawasi keadaan diluar kota Baghdad. Diatas setiap pintu gerbang dibangun tempat peristirahatan khalifah dengan berbagai hiasan yang indah dan menyenangkan.
Karena Baghdad menjadi kota terbuka (internasional) maka Al Makmun membangun dua kota baru yang dikenal sebagai kota satelit yang berfungsi sebagai kota penyangga, yaitu :
a. Kota Rushafah, terletak disebelah timur sungai Tigris, berhadapan dengan Kota Baghdad.
b. Kota Karakh, terletak disebelah barat sungai Tigris.
Kota Baghdad pada periode pertama menjadi kota penting didunia, sebagai pusat pemerintahan, pusat ilmu pengetahuan dan perdagangan. Salah satu hasil karya yang lahir di Baghdad adalah Alf Lailah wa Lailah (kisah seribu satu malam), yang telah diterjemahkan keberbagai bahasa utama Eropa dan Asia. Sebagai kota ilmu pengetahuan Baghdad menjadi kiblat ilmu pengetahuan bagi Eropa.
Pada masa Al Makmun Baghdad menjadi pusat paling besar dalam bidang ilmu pengetahuan, baik ilmu kedokteran, filsafat, astronomi, hitung maupun ilmu agama Islam. Al Makmun juga melibatkan diri dalam perkembangan ilmu pengetahuan dengan menyediakan dana dan memberikan dorongan kuat bagi usaha pengembangan ilmu pengetahuan, beliau mendukung aliran teologi liberal-rasional yaitu aliran Muktazilah. Keadaan ini didukung oleh usaha Al Makmun dalam mengembangkan Baitul Hikmah. Lembaga ilmu penetahuan ini menjadi tanda bagi kebangkitan kekuatan timur hingga runtuhnya Baghdad pada tahun 1258 M.
Baghdad juga mendapat julukan Benteng Kesucian karena banyak orang suci yang dikebumikan didalam batas dan sekitar tembok kota. Diantaranya adalah Imam Musa al Kazhim, Abu Hanifah, Syaikh Junaid, Syibli dan Abdul Kadir Jailani. Kemegahan dan keindahan kota Baghdad pada tahun 1258 M ditenggelamkan ke dalam Sungai Tigris sehingga airnya berubah warna hitam karena tinta dari buku-buku Islam dan warna merah karena darah orang-orang yang dibantai Hulagu Khan.
D. Khalifah Dinasti Abbasyiah yang terkenal
1. Abu Ja’far Al Mansur (136-158H/754-775M)
1.1 Biografi Abu Ja’far Al Mansur
Nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Abdullah bin Muhammad Al Mansur. Al Mansur berarti yang selalu mendapat pertolongan Allah, karena disetiap pertempuran selalu menang. Al Mansur adalah putra dari Muhammad bin Ali dan Salamah Al Barbariyah. Ia dilahirkan di Humaimah Yordania pada tahun 95 H/ 714 M. AL Mansur menjadi khalifah pada usia 41 tahun, menjabat khalifah selama 22 tahun menggantikan saudaranya Abu Abbas As Safah yang meninggal karena cacar air. Al Mansur dikenal sebagai Bapak Khalifah Abbasyiah karena semua puteranya menjadi khalifah dalam pemerintahan Abbasyiah. Beliau juga dikenal sebagai tonggak pembangun kejayaan Abbasyiah karena telah berhasil membangun Abbasyiah hingga menjadi kokoh, maju dan berhasil membawa Islam kepuncak kejayaan.
Pada tahun 159 H/775 M Al Mansur mengadakan perjalanan haji ke Mekah, namun beliau meninggal di Mekah dalam usia 65 tahun dan dimakamkan di Mekah pula.
1.2 Langkah Al Mansur dalam mengendalikan pemerintahannya:
1.2.1 Menata dan menertibkan pemerintahannya, dengan cara:
1.2.1.1 Menyusun dan menertibkan administrasi pemerintahan.
1.2.1.2 Menetapkan tugas dan tanggung jawab aparat pemerintahan baik pusat maupun daerah.
1.2.1.3 Membangun kerjasama antar sektor aparatur negara, seperti kerjasama antara Qadhi dengan Kepala Polisi Rahasia, Kepala Pajak dan Kepala Jawatan Pos.
1.2.1.4 Membangun kota Baghdad sebagai ibukota Dinasti Abbasyiah.
1.2.2 Menciptakan stabilitas keamanan dalam negeri.
Pada masa Al Mansur ada 3 kelompok yang mengancam stabilitas pemerintahan Abbasyiah, yaitu:
1.2.2.1 Kelompok Abdullah bin Ali.
Abdullah bin Ali adalah paman Al Mansur, ia panglima perang yang mempunyai banyak tentara diwilayah Khurasan, Mosul dan Syam. Alasan Abdullah bin Ali menyerang Al Mansur adalah:
Abdullah bin Ali merasa tertipu, karena pernah dijanjikan oleh As Safah untuk menjadi khalifah penggantinya, bila dapat menumpas Marwan bin Muhammad. Namun kenyataannya yang menjadi pengganti adalah Al Mansur.
Abdullah bin Ali tersinggung saat penobatan Al Mansur sebagai khalifah tidak minta restu terlebih dahulu.
Untuk menghadapi Abdullah bin Ali, Al Mansur menunjuk Abu Muslim Al khurasani sebagai panglimanya. Sebagian pasukan Abdullah bin Ali yang berasal dari Khurasan membelot mendukung Abu muslim Al Khurasani, sehingga Abdullah bin Ali mengalami kekalahan.
1.2.2.2 Kelompok Abu Muslim Al Khurasani.
Kelompok ini dianggap berbahaya bagi kelangsungan pemerintahan Al Mansur. Al Mansur merasa khawatir karena banyak rakyatnya yang simpati terhadap Abu Muslim Al Khurasani dan hal ini dapat digunakan untuk merebut kekuasaannya. Oleh karena itu Abu Muslim Al Khurasani dibunuh. Adapun yang dijadikan alasan untuk me mbunuh Abu Muslim adalah:
Abu Muslim Al Khurasani menolak utusan Abu Ja’far Al Mansur yang bernama Abdul Khasib untuk mencatat ghanimah dari Abdullah bin Ali.
Muslim Al Khurasani menolak jabatan gubernur di Mesir dan Syam.
1.2.2.3 Kelompok Alawiyah.
Kelompok Alawiyah yang semula membantu Bani Hasyim untuk menggulingkan Bani Umayyah merasa tersisih setelah diproklamirkan berdirinya Dinasti Abbasyiah. Akhirnya kelompok ini memberontak terhadap pemerintahan Abbasyiah. Mereka kemudian mengangkat Abdullah Alawi untuk menduduki kursi kekhalifahan. Gerakan ini akhirnya dapat ditumpas, Abdullah Alawi berhasil dibunuh.
1.2.3 Melakukan pembinaan politik luar negeri.
Dalam kebijakan politik luar negeri Al Mansur berusaha keras untuk dapat menundukkan 3 wilayah penting, yaitu:
1.2.3.1 Wilayah Byzantium.
Pada saat Al Mansur menghadapi pemberontakan kaum Alawiyah, kaisar Romawi menyerang negeri Syam. Serangan ini dapat diredam dan berakhir dengan perjanjian damai untuk tidak saling menyerang selama 7 tahun. Setelah pemberontakan dapat ditumpas Al Mansur mengatur persiapan untuk menyerang Byzantium. Akhirnya Al Mansur dapat mengalahkan Byzantium dan kaisar Byzantium harus membayar upeti kepada Dinasti Abbasyiah.
1.2.3.2 Wilayah Afrika.
Di Afrika atau Maghribi Aqsha pada tahun 144 H/773 M terjadi pertentangan antara penguasa Arab Bani Umayyah dengan kaum Barbar. Kondisi ini merupakan kesempatan emas bagi Al Mansur untuk menguasai wilayah Afrika dan usaha itu berhasil pada tahun 155 H/784 M.
1.2.3.3 Wilayah Andalusia.
Pada saat pembersihan keturunan Umayyah yang dilakukan oleh As Saffah ada keturunan Bani Umayyah yang dapat lolos dari pembantaian tersebut. Ia adalah Aburrahman Ad Dakhil yang berhasil mendirikan Bani Umayyah di Andalusia pada tahun 138 H/757 M. Untuk menghancurkan Ad Dakhil ini Al Mansur bekerja sama dengan Pipin Raja Frank. Kerjasama tersebut diwujudkan dalam bentuk pertukaran duta dan tanda kehormatan.
2. Harun Al Rasyid (170-193H/786-809M)
1.1 Biografi Harun Al Rasyid
Harun al Rasyid dilahirkan pada 17 Maret 763M (148H) di kota Rayy, putra dari Al Mahdi dengan Khayzuran dari Yaman. Di waktu muda ia mendapat didikan dari Yahya bin Khalid Al Barmaki. Selama pemerintahan ayahnya Al Rasyid dua kali memimpin ekspedisi militer menyerang Byzantium (779-780 M dan 781-782 M). Ia juga dua kali memangku jabatan gubernur, pertama pada tahun 779 M di As Saifah dan kedua tahun 780 M di Maghribi.
Pada usia 23 tahun ia dinobatkan menjadi khalifah Bani Abbasyiah yang ke lima menggantikan saudaranya Musa Al Mahdi. Ia berkuasa selama 23 tahun. Harun Al Rasyid tergolong khalifah terbesar Bani Abbasyiah karena dapat menjadikan kota Baghdad sebagai mercusuar dunia kota impian Seribu Satu Malam yang tidak ada tandingannya saat itu. Pada masa Al Rasyid Dinasti Abbasyiah mencapai puncak kejayaan hingga masa Al Makmun. Oleh karena itu era kedua khalifah tersebut dikenal dengan “Masa Keemasan Islam” atau “The Golden Age of Islam”.
Khalifah Harun Al Rasyid meninggal dalam usia 47 tahun, pada tanggal 4 Jumadil Tsani 193 H/24 Maret 809 M di Thus Khurasan setelah menjabat khalifah selama 23 tahun 2 bulan 18 hari.
1.2 Masa Pemerintahan Harun Al Rasyid
Harun Al Rasyid tergolong penguasa yang taat beragama dan dermawan. Dalam mengendalikan pemerintahan beliau dibantu oleh Yahya bin Khalid (wazirnya) dan keempat putra Yahya terutama Ja’far dan Fazal merupakan tokoh penting dalam pemerintahan Harun Al Rasyid. Ia mampu menciptakan pemerintahan yang adil, makmur dan berwibawa. Sehingga kepemimpinannya mendapat dukungan dari berbagai pihak, hal ini dapat memperlancar usahanya dalam membangun negaranya diberbagai bidang.
1.3 Usaha Harun Al Rasyid didalam negeri
1.3.1 Usaha dibidang keamanan.
1.3.1.1 Membasmi pemberontakan Yahya bin Abdullah.
Pemberontakan kaum Alawiyyin terjadi didaerah Dailamy. Untuk menangani pemberontakan ini Al Rassyid mengirim Fadl bin Yahya bin Khalid Al-Barmaki. Fadl berusaha membujuk Yahya bin Abdullah untuk berunding agar tidak terjadi pertumpahan darah. Yahya bin Abdullah bersedia berunding asal ada jaminan jiwanya dari Al Rasyid yang disaksikan oleh para hakim. Permintaan tersebut dikabulkan bahkan Harun Al Rasyid memberikan hadiah sebagai tanda penghormatan. Setelah Yahya bin Abdullah menghadap ia ditangkap dan ditahan.
2.3.1.2 Membasmi pemberontakan Idris bin Abdullah.
Idris bin Abdullah adalah pendiri daulah Alawiyyin pertama pada tahun 788 M didaerah Maghribi Aqsha, Maroko. Harun Al Rasyid berusaha melenyapkan daulah tersebut dengan mengirimkan Sulaiman bin Jarir untuk membunuh Idris bin Abdullah. Sekalipun Idris bin Abdullah terbunuh kekhalifahan Alawiyyin tetap berdiri.
2.3.1.3 Mendirikan Bani Aglab di Afrika.
Bani Aglab didirikan oleh Harun Al Rasyid pada tahun 184 H/800 M di Afrika Utara dengan ibu kota Qairun, sebagai pemimpinnya adalah Ibrahim bin Aglab. Tujuan mendirikan Daulah ini adalah untuk mengamankan daerah Qairun yang merupakan asal dari Bani Abbasyiah dan untuk membendung kekuasaan Bani Idris.
2.3.1.4 Menindak tegas keluarga Al Barmaki.
Para menteri dari keluarga Barmaki semakin besar dan luas pengaruhnya serta telah menyalahgunakan wewenang dengan mengambil kekayaan negara untuk memperkaya diri. Karena hal inilah Harun Al Rasyid memerintahkan agar Ja’far bin Yahya dihukum mati, sedang Yahya bin Khalid dan Fadl bin Yahya dipenjarakan.
2.3.2 Usaha di bidang kebudayaan
2.3.2.1 Usaha dibidang fisik
Pembangunan dibidang fisik lebih diutamakan demi majunya agama Islam, ilmu pengetahuan dan kesejahteraan rakyat. Diantara pembangunan tersebut adalah:
Membangun kota Baghdad sebagai pusat pemerintahan, ilmu pengetahuan dan perdagangan.
Membangun sistem irigasi yang beerteknologi tinggi.
Memperluas areal pertanian untuk meningkatkan produksi pangan.
Membangun jalan raya sebagai sarana transportasi.
Mendirikan pabrik dan perusahaan untuk meningkatkan ekonomi rakyat.
Mendirikan gedung peneropong bintang.
Membangun mata air Zubaidah untuk kepentingan jamaah haji di Mekah.
2.3.2.2 Usaha dibidang ilmu pengetahuan dan seni Harun Al Rasyid terkenal karena keberhasilannya dalam mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan sehingga umat Islam saat itu dapat mencapai puncak kejayaan. Bukti perkembangan ilmu pengetahuan saat itu adalah:
Mendirikan Baitul Hikmah sebagai lembaga ilmu pengetahuan.
Memberi kebebasan kepada rakyatnya untuk memeluk agama.
Mendirikan majelis Al Munazarah yaitu lembaga yang mengkaji masalah-masalah keagamaan.
Munculnya para sarjana dari berbagai disiplin ilmu. Saat itu sudah ada 800 orang dokter.
Adanya produk yang berteknologi tinggi, seperti jam air.
Adanya istana dan masjid yang indah dan megah dengan berbagai ukiran yang menakjubkan.
Lahirnya seniman besar, sepert Abu Nawas (Hasan bin Hani) dan Omar Khayam.
Lahirnya buku Alfu Lailah wa Lailah karya Mubasyir bin Fatil.
Berkembangnya seni musik.
2.3.2.3 Usaha dibidang ekonomi
Pada masa pemerintahan Harun Al Rasyid perekonomian Abbasyiah maju dengan pesat, kas negara dan pendapatan pemerintah melimpah sehingga kehidupan rakyat Abbasyiah benar-benar berada pada tingkat kesejahteraan yang sangat tinggi. Untuk meningkatkan hasil pertanian dan kebutuhan akan air bersih Harun ar Rasyid banyak membangun sistem irigasi. Ibu dan permaisuri Zubaidah juga ambil bagian dalam pembangunan, mereka membangun Terusan Zubaidah untuk kepentingan para jemaah haji di Mekah.
2.3.3 Keadaan angkatan perang.
Keadaan angkatan perang masa Harun Al Rasyid sudah lebih maju dan tertata, para tentara sudah mendapatkan gaji sebesar 20 dirham. Bala tentara Harun Al Rasyid terdiri dari infanteri dan kavaleri, dengan persenjataan panah, lembing, tombak, pedang, baju perang dan topeng besi. Pada masa ini juga sudah dibentuk dinas rahasia yang terdiri orang laki-laki dan perempuan. Industri persenjataan dibangun di Damaskus.
2.3.3.1 Usaha-usaha Harun Al Rasyid diluar negeri
Mengadakan pertukaran diplomat dan duta dengan kerajaan lain seperti Tiongkok,Tartar dan Hindu.
Mengabulkan permintaan Karl Agung Raja Frank (Charlemagne) dari Perancis agar menjamin keselamatan orang Kristen Perancis yang berziarah ke Baitul Maqdis Yerusalem. Tujuan Harun Al Rasyid menjalin hubungan dengan Karl Agung adalah agar Karl agung membantu memusnahkan sisa-sisa Dinasti Umayyah di Andalusia. Keduanya saling bertukar duta dan hadiah sebagai tanda persahabatan. Harun Al Rasyid memberikan Karl Agung kunci Gereja Raya Baitul Maqdis dan sebuah jam air. Orang Eropa mengatakan bahwa jam air itu adalah benda ajaib karena saat itu belum ada yang dapat menciptakan jam air.
Menguasai Konstantinopel, Byzantium pada tahun 791 M dengan sebuah perjanjian bahwa Byzantium harus membayar upeti yang telah ditentukan sebagaimana perjanjian terdahulu.
3. Abdullah Al Makmun (198-218H/813-833M)
3.1 Biografi Khalifah Abdullah Al Makmun
AL Makmun dilahirkan pada tanggal 15 Rabiul Awal 170 H/786 M, bertepatan dengan wafatnya Musa Al Hadi dan naik tahtanya Harun Al Rasyid. Ayahnya bernama Harun Al Rasyid dan ibunya Bernama Marojil berasal dari keturunan Persia. Sejak kecil ia sudah didik oleh Kasai Nahvi dan Yazidi. Saat mudanya Al Makmun mendapat didikan ilmu hadist dari Imam Malik di Madinah dengan belajar kitab Al Muwatha.
Jabatan khalifah disandangnya setelah ia dapat mengatasi konflik dengan kakaknya Al Amin. Sepeninggal ayahnya Dinasti Abbasyiah mengalami konflik selama lima tahun 809-813 M. Konflik terjadi disebabkan perebutan jabatan kekhalifahan. Dengan meninggalnya Al Amin maka Al Makmun resmi menjadi khalifah Abbasyiah yang ke 7 selama 20 tahun.
Masa kekhalifahan Al Makmun terbagi dalam 2 periode, yaitu:
Periode kegairahan Al Makmun terhadap ilmu pengetahuan. Pada masa ini Al Makmun menyibukkan diri mempelajari kebudayaan dan filsafat di Merv. Ia menyerahkan kekuasaan kepada Fazal bin Sahal selama 6 tahun.
Periode dimana Al Makmun memegang sendiri kendali pemerintahan Dinasti Abbasyiah. Periode ini berlangsung selama 14 tahun.
Al Makmun adalah seorang khalifah yang tangguh sehingga dapat menumpas pemberontakan yang merong-rong kewibawaan pemerintahannya dan dapat membawa kejayaan Islam seperti yang telah dicapai ayahnya.
Ia seorang khalifah yang cinta ilmu pengetahuan, ditangannya Baitul Hikmah dapat jaya dan menjadi lembaga ilmu pengetahuan yang maju. Padaa tanggal 19 Rajab 218 H (10 Agustus 833 M) Al Makmun meninggal dunia, saat tentara perangnya melawan tentara Byzantium. Al Makmun meninggal dalam usia 48 tahun, menjabat khalifah selama 20 tahun 5 bulan 24 hari. Sebelum meninggal ia berwasiat agar penggantinya adalah Abu Ishaq Muhammad Al Mu’tashim bin Rabbah.
3.2 Usaha yang dilakukan Al Makmun
Dalam upaya menjaga stabilitas pemerintahan dan melindungi rakyat untuk mencapai kehidupan yang makmur, Al Makmun melakukan usaha-usaha sebagai berikut:
3.2.1 Mengembangkan pemikiran liberal-rasional dan menetapkan faham Mu’tazilah sebagai madzab resmi.
3.2.2 Mengembangkan Baitul Hikmah sebagai pusat ilmu pengetahuan dan perpustakaan.
3.2.3 Membentuk badan negara yang anggotanya terdiri dari wakil semua kalangan masyarakat, tidak membedakan kelas atau agama.
3.2.4 Membentuk dinas rahasia terutama didaerah wilayah jajahan di Byzantium.
3.2.5 Menjadikan Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan bertaraf internasional bahkan menjadi kiblat bagi dunia ilmu pengetahuan.
3.2.6 Menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa nasional.
3.2.7 Sangat toleran terhadap pemeluk agama lain.
II. PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN PADA MASA DINASTI ABBBASYIAH
A. Kemajuan-kemajuan di Bidang Sosial
Setelah mempelajari sejarah berdirinya Dinasti Abbasyiah kita jadi tahu bahwa untuk mendapatkan sesuatu itu perlu adanya usaha yang gigih dan pengorbanan. Nah dalam bahasan selanjutnya kita akan mempelajari prestasi yang dicapai oleh Dinasti Abbasyiah.
Kehidupan sosial Dinasti Abbasyiah saat itu sudah tertata dengan baik, kesejahteraan masyarakat terjamin bahkan dari segi ekonomi rakyat berkecukupan. Khalifah yang berkuasa sangat memperhatikan dan memihak kepentingan rakyat.
Kondisi masyarakat Abbasyiah terdiri dari bermacam suku bangsa yang berbeda-beda, seperti suku Maghribi, Mesir, Syam, Arab, Irak, Persia, India, Turki dan Yunani. Mereka hidup dengan rukun, hak-hak mereka dilindungi oleh khalifah sehingga tercapailah kehidupan yang damai dan sejahtera. Pada masa ini muncul tipe masyarakat baru yang dikenal dengan istilah taulid yaitu perkawinan campuran antara suku bangsa yang tinggal di Abbasyiah. Sehingga anak yang dilahirkkan mempunyai sifat dan karakter yang khas, baik kecerdasan, kepribadian dan bentuk tubuh. Khalifah Dinasti Abbasyiah juga ada yang keturunan taulid dan mereka dapat membawa Dinasti Abbasyiah mencapai puncak peradaban. Mereka itu adalah Musa al Hadi, Harun Ar Rasyid, Al Makmun dan Al Muktasim.
Menurut Jirjis (George) Zaidan rakyat Dinasti Abbasyiah terbagi dalam dua kelompok yaitu kelompok khusus dan kelompok umum.
1. Kelompok khusus terdiri dari khalifah dan keluarga Bani Hasyim, para pembesar negara, para bangsawan bukan Bani Hasyim dan petugas khusus yaitu tentara dan pembantu istana.
2. Kelompok umum terdiri dari para seniman, ulama, fuqaha, pedagang, pengusaha, petani dan buruh.
Walau demikian mereka mendapat perhatian yang sama dari khalifah. Semua sarana dan prasarana yang dibangun khalifah dapat dinikmati secara bersama. Pemerintah Dinasti Abbasyiah selalu berusaha untuk menghilangkan sistem perbudakan, namun usaha itu belum dapat berhasil sesuai harapan khalifah dan ajaran Islam.
Dalam perkembangan selanjutnya, masyarakat muslim non Arab (mawali) memegang peranan penting dalam pemerintahan. Berbeda dengan masa Bani Umayyah mereka sangat dibedakan dalam pelayanan pemerintahan. Bani Umayyah menempatkan bangsa Arab yang tinggal di Suriah kedalam tingkatan yang tertinggi. Pada masa Dinasti Abbasyiah kaum mawali mempunyai peranan penting, mereka itu adalah keluarga Barmak, Dinasti Buwaihiyah dan Dinasti Seljuk.
Pendiri keluarga Barmak adalah Khalid bin Barmak berasal dari Persia. Khalid bin Barmak adalah putera dari seorang pemimpin disebuah biara Budha di Balkh. Awal karir Khalid bin Barmak pada Dinasti Abbasyiah adalah sebagai pemimpin departemen keuangan (diwanul kharaj). Pada tahun 765 M ia berhasil memadamkan pemberontakan di Tabaristan, Mesopotamia, selanjutnya ia diangkat menjadi gubernur di Mesopotamia.
Pada saat Al Mansur memunculkan jabatan wazir Khalid bin Barmak mendapat kepercayaan untuk memegang jabatan tersebut. Dialah yang menjadi pelopor terbentuknya keluarga wazir karena keturunan Khalid bin Barmak nantinya yang memegang jabatan ini selama hampir 50 tahun. Diantara keturunan Khalid yang mempunyai peranan dalam Dinasti Abbasyiah adalah Yahya bin Khalid, Ja’far bin Yahya (sebagai wazir}, dan Fadl bin Yahya menjadi Gubernur di Persia Barat dan Khurasan.
Golongan lain yang berpengaruh pada Dinasti Abbasyiah adalah Dinasti Buwaihiyah yang berasal dari suku Dailami disebelah barat daya Laut Kaspia. Dinasti Buwaihiyah memegang peranan pada Dinasti Abbasyiah hampir satu abad. Pada masa ini khalifah hanya sebagai lambang saja sedang kekuasaan berada dalam kendali Dinasti Buwaihiyah.
Dinasti Seljuk dalam pemerintahan Dinasti Abbasyiah tidak jauh beda dengan keberadaan Dinasti Buwaihiyah, khalifah hanya sebagai simbol saja sedang kekuasaan yang sebenarnya dipegang oleh Dinasti Seljuk. Dinasti Seljuk ini beraliran suni sedang Dinasti Buwaihiyah beraliran Syiah.
Dalam pemerintahan Abbasyiah tidak ada perbedaan antara Arab dan non Arab, kondisi ini memperkaya dan mendukung berkembangnya ilmu pengetahuan dan peradaban Dinasti Abbasyiah sehingga tercapailah kejayaan Islam.
B. Kemajuan di Bidang Kebudayaan
Sebenarnya menuntut ilmu itu menjadi kewajiban setiap muslim, sesuai dengan wahyu Allah SWT yang pertama surat Al Alaq ayat 1, tahukah kalian bagaimana bunyi ayat tersebut dan bagaimana artinya? Ya benar. Bahkan Nabi Muhammad SAW pun memerintahkan agar kita mencari ilmu sampai kenegeri Cina.
Kegiatan ilmu pengetahuan setelah Nabi wafat dilanjutkan pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin dan masa Dinasti Umayyah, namun hal ini tidak dilakukan dengan intensif karena pada masa Nabi yang diutamakan adalah penanaman nilai keimanan, sedanng Khulafaur Rasyidin dan Dinasti Umayyah usahanya dititik beratkan pada penumpasan orang-orang murtad dan perluasan wilayah Islam. Pelaksanaan pengembangan ilmu pengetahuan dilaksanakan secara intensif pada masa Dinasti Abbasyiah. Khalifah Abbasyiah ke dua sangat memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan. Al Mansur mengundang para ulama dan ilmuwan dari berbagai bangsa dengan latar belakang yang berbeda ke Baghdad. Mereka diberi fasilitas yang cukup untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Gerakan pengembangan ilmu pengetahuan dilanjutkan pada masa khalifah Harun ar Rasyid dan puteranya Al Makmun. Pada masa inilah umat Islam menjadi super power ilmu pengetahuan dibelahan dunia.
Puncak gerakan penerjemahan terjadi pada masa Harun ar Rasyid dan al Makmun. Al Makmun secara khusus mengirim utusan ke Yunani (saat itu sedang dalam kemunduran) untuk mencari naskah asli dan manuskrip kuno. Selanjutnya dibentuk tim khusus untuk menerjemahkan naskah tersebut kedalam bahasa Arab. Sebagai wadah penerjemahan naskah-naskah kuno ini al Makmun mengembangkan Baitul Hikmah yang telah dirintis oleh ayahandanya Harun ar Rasyid dengan nama Khizanatul Hikmah.
Di Baitul hikmah dilengkapi pula dengan perpustakaan dan alat teropong bintang. Tim penerjemah Baitul Hikmah diketuai oleh Yuhana bin Musawaih, dengan anggotanya Hunain bin Ishaq, Yahya bin al Bitrik, al Hajjaj bin Mattar dan Yahya bin Masawwiyah. Di Baitul Hikmah inilah muncul para cendekiawan terkenal, seperti Ahmad, Muhammad dan Hasan sebagai pakar matematika, Jarir bin Hayyan sebagai pakar kimia, Muhammad bin Musa al Khawarizmi sebagai pakar aritmatika, Abu Ali Hasan bin Khaitam sebagai pakar fisika, Nasiruddin at Tusi sebagai pakar astronomi, Qutbudin as Sirazi sebagai pakar optik, dan al Kindi, al Farabi, Ibnu Sina, al Ghazali, al Razi dibidang filsafat dan kedokteran.
Dinasti Abbasyiah juga sangat memperhatikan perkembangan ilmu agama Islam, dan telah muncul ulama-ulama besar dibidang ilmu agama Islam. Diantaranya ulama dibidang fiqh seperti Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Hanbali dan Imam Syafi’i, mereka terkenal dengan Imam Madzab. Dibidang ilmu tafsir muncul ulama at Tabari, az Zamakhsyari dan Fakhruddin ar Razi. Dibidang hadist muncul karya besar yang berjudul al Kutub as Sittah karya al Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Tirmidzi, an Nasa’i dan Ibn Majah.
Bukti berkembangnya ilmu pengetahuan saat itu adalah:
1. Berdirinya lembaga pendidikan Khizanatul Hikmah yang didirikan oleh Harun ar Rasyid kemudian disempurnakan oleh Al Makmun menjadi Baitul Hikmah (832 M) yaitu sebuah universitas yang dilengkapi dengan perpustakaan dan observatorium. Diantara ilmu yang dipelajari di Baitul Hikmah adalah kedokteran, matematika, optik, geografi, fisika, astronomi, sejarah dan filsafat.
2. Adanya majelis Munazarah yaitu tempat pertemuan para sarjana dan pujangga untuk membahas masalah-masalah ilmiah terutama dalam bidang agama.
3. Berdirinya kota pendidikan, seperti Mekah, Madinah, Kuffah, Damaskus, Hijjaz, Kairawan, Irak dan Mesir.
4. Adanya beberapa wilayah baru yang terarabkan, baik bahasa, pakaian dan adat istiadat Arab, seperti Mesir, Suriah, Palestina, Persia, Aljazair dan Maroko.
5. Adanya orang-orang Eropa yang belajar di universitas Islam di Andalusia dan Sisilia, seperti Gerbert d’Aurillac pemuka Kristen yang kemudian menjadi Paus di Roma tahun 999-1003 dengan nama Sylvester II.
C. Kemajuan di Bidang Ekonomi dan Perdagangan
Pembangunan yang dicapai oleh Dinasti Abbasyiah adalah:
1. Bidang Ekonomi
Khalifah Al Mansur sebagai pendiri Dinasti Abbasyiah kedua benar-benar dapat meletakkan dasar ekonomi dan keuangan negara, sehingga kas negara mengalami kemajuan yang pesat. Sistem perekonomian negara dibangun dengan menggunakan sistem ekonomi pertanian, perindustrian dan perdagangan.
a. Ekonomi pertanian
Usaha yang dilakukan pemerintahan Abbasyiah dalam memajukan pertanian:
1. Dinasti Abbasyiah menghargai hak para petani diantaranya meringankan beban pajak hasil bumi.
2. Menjamin hak-hak ahli zimmah dan mawali sehingga mereka dapat kembali bertani.
3. Melindungi para petani terhadap para pemeras.
4. Membangun bendungan dan irigasi untuk memudahkan pengairan.
b. Ekonomi industri
Industri yang berkembang pada masa Dinasti Abbasyiah meliputi:
1. Basrah dikenal dengan industri sabun dan gelas
2. Kufah dikenal dengan industri sutra .
3. Persia dan Khurasaan dikenal dengan industri barang tambang.
4. Khuzastan dikenal dengan industri tekstil bersulam.
5. Damaskus dikenal dengan industri kemeja sutra “ad Damaqs”.
6. Mesir terkenal dengan industri tekstil.
7. Syam terkenal dengan industri keramik dan gelas berwarna indah.
8. Khurasan dikenal dengan industri kain wool.
9. Industri kapal, senjata dan kulit dikota Andalusia.
Selain itu Dinasti Abbasyiah sudah dapat mengolah berbagai barang tambang menjadi barang jadi seperti emas, perak, perunggu, besi dan baja.
c. Ekonomi Perdagangan
Dalam rangka memajukan pertanian dan perindustrian pemerintahan Dinasti Abbasyiah sangat memperhatikan perkembangan perdagangan. Berbagai fasilitas perdagangan dibangun dan ditingkatkan, seperti pembangunan pasar, jalan untuk sarana transportasi, sumur-sumur ditempat istirahat para khalifah dagang, menjalin hubungan perdagangan dengan bangsa lain seperti Cina, India dan Indonesia. Untuk menjamin keamanan dan mengendalikan harga barang serta mengawasi timbangan dibentuk badan khusus yang disebut Diwan al Syurtha.
D. Kemajuan di Bidang Politik dan Militer
Tahukah kalian bahwa terdapat perbedaan kebijaksanaan antara pemerintahan Dinasti Umayyah dengan Dinasti Abbasyiah? Perbedaan ini sangat mendasar dalam sikap politik baik Dinasti Umayyah maupun Dinasti Abbasyiah, antara lain:
1. Dalam segala bidang, Bani Umayyah bercorak Arab murni.
2. Bani Umayyah dalam usahanya menitik beratkan perluasan wilayah.
3. Bani Abbasyiah sudah mulai ada percampuran suku bangsa.
4. Kebijaksanaan Bani Abbasyiah adalah menekankan perkembangan ilmu pengetahuan.
Kebijaksanaan politik yang dijalankan Dinasti Abbasyiah adalah:
1. Menindak keras terhadap keturunan Bani Umayyah. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kemungkinan munculnya gerakan pemberontakan dari Dinasti Umayyah.
2. Lebih mementingkan keturunan Persia dari pada Arab dalam jabatan di pemerintahan.
3. Baghdad sebagai ibukota negara dijadikan “kota terbuka”, kota politik, ilmu pengetahuan, kebudayaan, sosial dan ekonomi.
4. Kebebasan berfikir sebagai hak asasi manusia diakui sepenuhnya oleh khalifah, sehingga tercipta keleluasaan berfikir dan mengeluarkan pendapat dalam segala bidang.
5. Kebijaksanaan terhadap kelompok agamawan yang menggunakan agama sebagai alat untuk menumbangkan kekuasaan Dinasti Abbasyiah. Gerakan ini antara lain gerakan Rowandiyah, gerakan al Muqanniyah, gerakan al Khuramiyah dan Kaum Zindiq. Untuk mengamankan kemurnian ajaran Islam dan demi stabilitas politik, pemerintahan Abbasyiah memerangi kelompok tersebut.
E. Kebijaksanaan dalam Pemerintahan Abbasyiah
Perkembangan politik pemerintahan Dinasti Abbasyiah adalah adanya pembentukan beberapa lembaga pemerintahan baru, antara lain:
1. Kepala negara disebut khalifah dan dalam menjalankan pemerintahan dibentuk suatu jabatan yaitu wizaraat, yang menjabat disebut wazir (perdana menteri).
Ada dua macam wizaraat:
a. Wizaraat Tanfiz yaitu menteri yang bertanggung jawab kepada khalifah.
b. Wizaraat Tafwid yaitu menteri yang diberi kuasa penuh memimpin pemerintahan, khalifah hanya sebagai simbul pemerintahan.
2. Pembentukan Diwanul Kitabah untuk membantu khalifah dalam menjalankan tata usaha negara yang dikepalai oleh Raisul Kuttab, yang dibantu oleh beberapa sekretaris:
a. Katibur Rasail (Sekretaris Urusan Persuratan),
b. Katibul Kharraj (Sekretaris Urusan Keuangan),
c. Katibul Junud (Sekretaris Urusan Tentara),
d. Katibul Syurtan (Sekretaris Urusan Kepolisian),
e. Katibul Qadla (Sekretaris Urusan Kehakiman).
3. Untuk membantu wazir dalam menjalankan roda pemerintahan dibentuk Raisud Dewan (Menteri Departemen), antara lain:
a. Dewan Al Kharraj (Departemen Keuangan),
b. Dewan Aq Diyah (Departemen Kehakiman),
c. Dewan Az Zimah (Departemen Pengawasan Urusan Negara),
d. Dewan Al Junud (Departemen Ketentaraan),
e. Dewan Al Mawali wal Gilman (Departemen Perburuhan),
f. Dewan Al Barid (Departemen Perhubungan),
g. Dewan Zaman an Nafaqat (Departemen Pengawasan Keuangan),
h. Dewan Ar Rasail (Departemen Urusan Arsip Surat),
i. Dewan An Nazar Fil Madalim (Departemen Pembelaan Rakyat),
j. Dewan Al Akhdas Was Shurthan (Departemen Keamanan dan Kepolisian),
k. Dewan Al Atha Wal Hawaij (Departemen Sosial),
l. Dewan As Sakhsiyah (Departemen Urusan Keluarga dan Kewanitaan),
m. Dewan Al Akarah (Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Kerja)
4. Tata usaha negara bersifat sentralisasi , yang disebut An Nidhamul Idary Al Markazi.
5. Wilayah pemerintahan Islam dibagi menjadi beberapa propinsi yang dinamakan Imarat dengan gubernurnya bergelar Amir. Imarat pada saat itu ada tiga macam yaitu:
a. Imarat Al Istikfa yaitu provinsi yang gubernurnya diberi hak penuh dari segala bidang urusan negara, seperti urusan kepolisian, ketentaraan, keuangan dan kehakiman.
b. Imarat Al Khassah yaitu provinsi yang gubernurnya diberi hak wewenang tertentu dan sangat terbatas.
c. Imarat Al Istila yaitu provinsi yang secara devacto didirikan oleh seorang panglima dengan cara kekerasan dan kemudian diangkat sebagai gubernur secara resmi oleh khalifah.
Dibawah para amir terdapat pemerintahan desa (AL Qura) yang mendapat hak otonomi penuh. Kepala Desa bergelar Syaikh AL Qariyah.
6. Pembentukan Angkatan Bersenjata, yang terdiri dari angkatan darat dan angkatan laut. Kesatuan angkatan ini dibawah panglima besar angkatan perang disebut Amirul Umara.
Pada masa Dinasti Abbasyiah angkatan perang terdiri dari:
a. Al Jundul Murtaziqah yaitu tentara tetap yang digaji dan tinggal di asrama.
b. Al Jundul Muthauwi’ah yaitu tentara sukarelawan.
Kesatuan tentara pada masa ini adalah:
a. Arif (komandan regu) yang membawahi 10 prajuritat,
b. Naqib (komandan kompi) yang membawahi 10 arif,
c. Qaid (komandan bataiyon) yang membawahi 10 naqib,
d. Amir (komandan devisi) yang membawahi 10 qaid.
7. Pembentukan Baitul Mal (kas negara). Badan ini terdiri atas tiga bagian:
a. Diwanul Khasanah yaitu Perbendaharaan Negara.
b. Diwanul Azrau yaitu Urusan Hasil Bumi.
c. Diwanul Khazainus silah yaitu Urusan Perlengkapan Angkatan Perang.
8. Sumber pemasukan Baitul Mal sebagai kekayaan negara berasal dari:
a. Al Kharaj yaitu pajak hasil bumi.
b. Al Jizyah yaitu pajak badan.
c. Az Zakah yaitu segala macam zakat.
d. Al Fa’i yaitu pembayaran dari pihak musuh yang kalah perang (upeti).
e. Ghanimah yaitu harta rampasan perang.
f. Al Asyur yaitu pajak perniagaan dan bea cukai.
9. Pembentukan Mahkamah Agung. Badan ini terdiri dari:
a. Al Qadha yaitu badan yang bertugas mengurusi perkara-perkara yang berhubungan dengan agama. Hakimnya disebut qadli.
b. Al Hisbah yaitu baddan yang mengurusi perkara-perkara yang berhubungan dengan masalah umum baik pidana maupun perdata. Hakimnya disebut Al Muhtashib.
c. An Nazhar Fi Madlalim yaitu badan yang bertugas menyelesaikan perkara-perkara naik banding dari tingkat al Qadha dan Al Hisbah. Hakimnya disebut Shahibul madlalim.
4 Dampak Kemajuan Sosial Budaya dan Ilmu Pengetahuan bagi Perkembangan Umat Islam
Dampak yang nyata dari kemajuan dibidang sosial budayaterhadap perkembangan umat Islam pada masa Dinasti Abbasyiah adalah umat Islam saat itu terdiri dari beragam suku bangsa hidup dalam satu Mamlakah Islamiyah. Menjadikan Al Qur’an sebagai sumber dan pedoman hidup, sehingga rakyat Dinasti Abbasyiah dapat berkembang dengan menakjubkan. Untuk dapat memahami Al Qur’an seseorang harus dapat menguasai bahasa Arab. Oleh karena itu pemerintah Dinasti Abbasyiah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi dan bahasa ilmu pengetahuan. Bahasa Arab kemudian tidak lagi menjadi sarana untuk memahami Al Qur’an saja tetapi juga menjadi sarana pemersatu beragam suku bangsa yang hidup di bawah wilayah kekuasaan Dinasti Abbasyiah.
Penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi, administrasi dan ilmu pengetahuan dapat menggantikan kedudukan bahasa Yunani dan Persia. Juga penggunaan bahas Latin di Afrika, Mesir, Siria, Libanon,Yordan dan Irak.
Dampak lain dari penggunaan bahasa Arab adalah adanya pengintegrasian beragam kebudayaan yang berkembang saat itu, mulai dari Spanyol di Barat sampai ke India di Timur dan mulai dari Sudan di Selatan sampai ke Kaukakus di Utara.
Selain itu penggunaan bahasa Arab juga mendorong bagi kemajuan ilmu pengetahuan Dinasti Abbasyiah, sehingga masa Dinasti Abbasyiah menjadi “masa keemasan” bagi umat Islam. Pada masa itu hidup ilmuwan muslim diberbagai bidang keilmuan, seperti filsafat, kedokteran, kimia, fisika, aljabar/matematika, geografi, astronomi dan sebagainya. Kejayaan ini dimulai dengan menerjemahkan buku-buku berbahasa asing kedalam bahasa Arab. Dari penerjemahan ini kemudian dikembangkan sehingga lebih maju dari karya aslinya. Kebiasaan menerjemahkan dan belajar terus menerus ini berdampak baik bagi kemajuan umat Islam yang akhirnya umat Islam dapat memimpin peradaban dunia selama lebih dari lima abad.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar